Hadiah Ramadan Satpol PP Sleman

Coba bayangkan bagaimana kira-kira perasaan kita misalnya kehilangan salah satu anggota keluarga kita, seorang ayah tercinta yang sudah tua misalnya, yang sudah hilang lebih dari 5 tahun dan dikira sudah meninggal, yang tak mungkin kembali, lalu tiba-tiba ada di hadapan kita dalam keadaan masih hidup ?  Tentu tak mudah memilih kata-kata untuk mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya kita saat itu.

Pak Juwari (tanda panah merah) Usai Tiba di Rumah Keluarganya di Magelang

Itulah yang terjadi pada keluarga ini yang tinggal di Padukuhan Kragon Kulon, Desa Madyogondo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sekira 5 tahun lalu Pak Juwari  (53 tahun) tiba-tiba menghilang. Keluarga bingung. Berbagai upaya pencarian sudah dilakukan. Banyak  tempat sudah didatangi. Tak terkecuali  ke  ‘orang pintar’. Namun segala upaya itu tidak membuahkan hasil. Pak Juwari hilang bak ditelan bumi.  Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19, keluarga seolah sudah kehilangan harapan, mengira sang bapak sudah meninggal dunia. Tak mungkin kembali.

Keluarga ini memiliki tiga orang anak. Bu Juwari dan dua anaknya sudah pasrah. Anak ketiganya yang masih berumur  5 tahun  belum memahami hal ini karena saat bapaknya pergi dia masih berumur beberapa hari paska kelahirannya.  Rasa sedih serta kehilangan mewarnai hari-hari keluarga ini.

Namun rasa sedih dan kehilangan itu seketika berubah 180 derajat, berbalik menjadi kebahagiaan dan suka cita tak terperikan mana kala di malam itu hari Rabu (23/3/2022) sekira jam 19.30 WIB sebuah mobil patroli memasuki halaman rumahnya yang sederhana. Seorang laki-laki yang sangat dikenalnya dengan tubuh lemah dan tertatih-tatih turun dari mobil dengan dibantu dua orang berseragam Satpol PP. Betapa kaget Bu Juwari dan keluarganya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki yang selama ini dianggapnya telah mati dan tak mungkin kembali, tiba-tiba ada di depan mereka, masih hidup. Tangis istri dan anaknya pun meledak. Air mata bahagia tak bisa dibendung. Sambil berisak tangis,  mereka segera menyambut laki-laki yang dirindu dan dicintainya itu. Bak sinetron, dengan berlari, anak keduanya yang duduk di bangku SMP menghampiri sang bapak sambil berteriak, “Pak eee…. aku kaangeeennn….”, untuk kemudian memeluknya erat seolah tak mau lagi kehilangan. Petugas pengantar yang merupakan anggota Satpol PP Sleman itu pun tak kuasa menahan haru. Trenyuh sekali.

Personil Satpol PP Sleman Saat Berada di Rumah Keluarga Pak Juwari

Beberapa saat kemudian, di luar rumah datang banyak tetangga sekitar termasuk  beberapa tokoh masyarakat setempat. Mereka sangat bersyukur atas kembalinya Pak Juwari yang selama ini  dikira sudah meninggal. Mereka juga mengucapkan banyak terima kasih kepada petugas Satpol PP Sleman yang telah menemukan dan mengantar Pak Juwari pulang sehingga bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Terdengar salah seorang tetangga berucap “Wah… hadiah Romadhon tenan  iki Yu…”.  Suara lain membalas ,”Iyooo iki…. meh arep bulan Romadhon eee…. berkah luar biasa”.

Sebelumnya… ada laporan dari warga Padukuhan Ngawen, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping tentang adanya laki-laki menggelandang yang  selama ini dianggarp   meresahkan warga. Berdasarkan arahan pimpinan, empat personil  piket siang Satpol PP Sleman terdiri dari Wisana, Octa dan  Fandi serta dipimpin Danru V (Lima) Hari Sutrisno  langsung meluncur ke lokasi. Di lokasi didapati seorang laki-laki yang kemudian diketahui bernama Juwari tergolek lemah di sebuah bangunan kosong milik warga setempat yang selama ini digunakannya untuk tidur. Menurut warga, sudah hampir satu bulan terakhir  ini Pak Juwari dalam keadaan sakit.  Meskipun sangat lemah, Pak Juwari masih bisa diajak ngomong. Saat ditanya di mana alamat tinggal keluarganya, beliau  bisa menjawabnya. Berdasarkan jawaban tersebut,  petugas lalu mengantarnya sampai rumah tinggalnya di Magelang hingga akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan orang-orang tercinta. Dengan kembalinya sang ayah, dipastikan Ramadan dan Idul Fitri tahun ini akan berbeda dengan lima kali Ramadan sebelumnya. Saat Sahur, saat buka puasa serta di Hari Kemenangan nanti akan dapat dinikmati bersama lengkap dengan sang ayah, yang hal ini tidak bisa mereka nikmati sebelumnya….(AN)