Menyikapi maraknya aksi kejahatan jalanan yang terjadi akhir-akhir ini, Pelaksana Tugas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, Ir. Arip Pramana, M.T. memerintahkan jajarannya untuk meningkatkan intesitas patroli. Selama ini secara rutin patroli dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu harinya. Namun mulai Jumat tanggal 7 Februari 2020 lalu, ditambah satu patroli khusus guna mengantisipasi aksi kejahatan ini. Patroli khusus ini digelar malam hari, mulai pukul 21.00 WiB s.d. 02.00 WIB.

Sasaran patroli meliputi seluruh wilayah di Kabupaten Sleman. Dibagi dalam 3 wilayah operasi yakni wilayah Barat meliputi Kecamatan Gamping, Moyudan, Godean, Minggir dan Tempel. Wilayah Tengah meliputi Kecamatan Sleman, Mlati, Turi, Seyegan, Pakem dan Ngaglik. Sedangkan wilayah Timur meliputi Kecamatan Cangkringan, Ngemplak, Prambanan, Berbah dan Kalasan.

Personil juga dibagi dalam 3 kelompok. Masing-masing kelompok berpatroli di satu wilayah. Titik-titk rawan yang biasa digunakan untuk kumpul-kumpul atau nongkrong di tiap wilayah mendapatkan perhatian utama. Bila ada sekelompok orang terlebih usia anak atau remaja sekolah bergerombol, maka petugas akan berhenti dan menyambanginya, bahkan bila perlu melakukan pemeriksaan. Kegiatan ini sifatnya masih pembinaan dan pengawasan.
Di wilayah Pakem di seputaran lokasi wisata, petugas sempat mendapati sekelompok anak muda berkumpul. Gerak-gerik mereka mencurigakan, sehingga petugas melakukan pemeriksaan. Hasilnya ditemukan beberapa botol minuman keras. Sebagian telah diminum, sebagian lainnya masih utuh. Petugas menyita minuman keras tersebut. Kepada mereka diberikan pembinaan. Lalu diminta bubar dan disuruh pulang ke rumah masing-masing.

Kepala Seksi Operasional Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Sleman, Sri Madu Rakyanto, S.Sos yang terjun langsung dalam kegiatan ini mengatakan bahwa tujuan utama kegiatan ini pada dasarnya untuk menciptakan ketentraman dan ketertiban umum. “Minimal mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang tidak ada gunanya atau tidak perlu di malam hari yang dilakukan anak atau remaja, yang biasanya bergerombol. Mestinya mereka berada di rumah saat jam belajar atau jam tidur. Kepada mereka kita beri pembinaan dan kita upayakan untuk segera pulang ke rumah masing-masing”, papar Bapak Sri Madu.
Masih menurut Bapak Sri Madu, apabila menemui aksi kejahatan jalanan maka si pelaku akan langsung diamankan. Tidak boleh dilakukan tindakan kekerasan misalnya pemukulan, kecuali untuk membela diri. Selanjutnya menghubungi pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut.

Secara terpisah, Bapak Arip Pramana menyampaikan bahwa dengan langkah ini diharapkan jangan sampai terjadi kekhawatiran atau ketakutan berlebihan dalam masyarakat terkait aksi kejahatan jalanan ini. Juga jangan sampai antarkelompok masyarakat justru saling berhadap-hadapan. Karena ada informasi bahwa di suatu wilayah di Kabupaten Sleman telah muncul kelompok yang menyatakan dirinya sebagai kekuatan atau kelompok yang anti terhadap kelompok kejahatan jalanan ini. Bila munculnya kelompok “perlawanan” ini menjadi semacam fenomena baru, tentu akan meningkatkan potensi gangguan ketentraman, ketertiban dan keamanan dalam masyarakat.
“Kita ingin menunjukkan bahwa negara hadir, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Sleman. Hadir dan berupaya mengatasi setiap permasalahan yang ada di masyarakat. Ini adalah tugas pemerintah”, Terang Bapak Arip penuh semangat.

Lebih lanjut Bapak Arip menyampaikan bahwa upaya menciptakan situasi kondusif tidak hanya melalui kegiatan patroli. Banyak hal telah dilakukan. Salah satunya, beberapa waktu lalu SatuanPolisi Pamong Praja Kabupaten Sleman telah mengundang para Kasi Tramtib se-Kabupaten Sleman. Mereka diminta untuk terus bersinergi dengan unsur kewilayahan antara lain Babinsa, Babinkamtibmas, Linmas serta unsur-unsur kemasyarakatan lainnya untuk menjaga wilayahnya masing-masing agar tetap kondusif.
“Dengan berbagai langkah dan upaya yang telah dan akan terus kita lakukan, serta bersinergi dengan berbagai unsur kekuatan lain, kita harapkan wilayah Kabupaten Sleman tetap aman, tentram dan kondusif. Masyarakat tidak perlu khawatir apalagi takut yang berlebihan”, himbau Bapak Arip menutup perbincangan. (AN)
