• 2 July 2020 1:15 pm

SATUAN POLISI PAMONG PRAJA

Jl. Parasamya, Beran, Tridadi, Sleman 55511 Telp. 0274-868506 Faks.0274-868506

Inilah Salah Satu Penyebab Kelangkaan Gas Bersubsidi

Anom K

ByAnom K

Sep 18, 2019
Petugas Satpol PP Sleman Membawa Tabung Gas
Bersubsidi untuk Disita

Kadang kita mendengar adanya kelangkaan gas elpiji bersubsidi yakni gas 3 kg. Hal ini tentu merepotkan masyarakat, terutama masyarakat kurang mampu serta bagi mereka yang memiliki usaha yang dalam proses produksinya menggunakan gas elpiji.

Petugas Gabungan tengah Memberikan Pembinaan
kepada Pemilik Rumah Makan

Terhadap hal tersebut, Pertamina merespon secara positif. Hari ini, Rabu (18/9/2019) Pertamina cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, Paguyuban Hiswana Migas lokal Sleman, Bagian Perekonomian Setda Sleman serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman melaksanakan operasi terhadap  sejumlah Rumah Makan yang berlokasi di Jalan Kaliurang. Ada lima tempat yang disinyalir menggunakan gas elpiji ukuran 3 kg, padahal menurut peraturan hal ini merupakan penyalahgunaan.

Lima tempat usaha yang disasar adalah Rumah Makan Bakso “Pak N”, Soto “H”, Siomay dan Batagor “KS”,  Soto “KDP” dan Rumah Makan Padang “BU”.  Dari lima tempat tersebut, petugas menemukan sebanyak 80 tabung gas elpiji bersubsidi. Artinya tiap tempat usaha tersebut rata-rata menimbun atau menyimpan 16 tabung.

Salah Satu Rumah Makan yang
Didatangi Petugas

Menurut ketentuan, gas elpiji bersubsidi hanya diperuntukkan untuk empat kategori yakni  rumah tangga masyarakat miskin dan rentan miskin, nelayan, petani kecil dan usaha mikro.‎   Kriteria usaha mikro yakni memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, serta  memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Berdasarkan data dan fakta di lapangan, kelima Rumah Makan tersebut tidak masuk kategori usaha mikro. Kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan lebih tinggi dari kriteria sebagai usaha mikro, sehingga sebenarnya tidak berhak menggunakan tabung gas bersubsidi.

Penyerahan Tabung Gas 5,5 kg oleh Petugas
kepada Pemilik Rumah Makan

Karena masih bersifat pembinaan, maka terhadap penyalahgunaan ini belum dilakukan tindakan tegas apalagi proyustisia. Masih persuasif. Mereka diminta agar tidak lagi menggunakan gas bersubsidi. Seluruh tabung bersubsidi disita. Setiap dua tabungnya oleh Pertamina diganti dengan satu tabung gas elpiji 5,5 kg. Para pemilik Rumah Makan ini juga diberi nomor telepon dan alamat tempat pemesanan gas elpiji 5,5 kg secara resmi, dan dijamin akan disuplai dan diantar sebanyak yang dibutuhkan.

Menurut Sales Executive LPG VI Pertamina Cabang Yogyakarta, Ali Akbar Felayati, yang ikut langsung dalam operasi ini mengatakan bahwa dengan adanya penyalahgunaan pemanfaatan gas elpiji bersubsidi oleh beberapa usaha rumah makan kategori non-mikro, dapat mengurangi alokasi yang disediakan oleh Pemerintah untuk golongan masyarakat tertentu yang berhak misalnya golongan kurang mampu. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor penyebab kelangkaan dan distribusi yang tidak tepat sasaran.

Untuk itu lanjut Ali, operasi semacam ini akan terus dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan tabung gas bersubsidi serta untuk lebih menjamin distribusi yang tepat sasaran.(AN)